Rabu, 09 Juni 2010

Oseanografi

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat sangat berdaya guna yang mampu melarutkan zat lain dalam jumlah yang lebih besar dan pada zat air lainnya. Sifat ini dapat dilihat dari banyaknya unsure pohon yang terdapat dalam air laut. Diperkirakan ± 50 Trilliun metri ton garam yang larut dalam air laut. Di samping bentuk garam utama ini, sebenarnya masih ada bentuk garam yang lain tapi dalam air laut terdapat jumlah yang relatif kecil. (Hutabarat, 1985)
Di lapisan permukaan air laut, konsentrasi O2 sangat bervariasi dan swangat dipengaruhi oleh suhu, makin tinggi suhu makin berkurang tingkat kelarutan O2. Tapi anehnya semakin dalam beberapa ratus meter di bawah permukaan air laut, suhu semakin menurun. Ternyata kadar O2 juga semakin berkurang, sehingga bisa di temukan air laut dengan kadar minimum. Di laut oksigen berasal dari 2 sumber yaitu, dari atmosfer dan dari hasil fotosintesis fitoplankton dan berjenis tanaman laut. Keberadaan O2 terlarut ini sangat memungkinkan untu langsung di manfaatkan bagi kebanyakan organisme untuk kehidupan, antara lain pada proses respirasi dimana O2 dibutuhkan untuk pembakaran bahan organik, sehingga terbentuk energi yang di ikuti dengan CO2 dan H2O. (Wibisono, 2005)

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud diadakan praktikum lapang Oceanografi agar praktikum lebih mengerti dan memahami tentang parameter fisika dan parameter kimia yang mempengaruhi lingkungan laut.
Tujuan dilaksanakannya praktikum lapang Oceanografi adalah agar praktikan memahami dan mengerti cara pengukuran parameter fisika, seperti kecepatan arus, gelombang, Pasang Surut, Kecerahan, dab sifat optis air, dan parameter kimia seperti pH, salinitas dan oksigen terlarut (DO).




Waktu dan Tempat

Praktikum lapang oceanografi dilaksanakan pada hari kamis tanggal 29 April 2010 pada tanggal 09.30-17.00 WIB. Bertempat di pelabuhan Tanjung Tembaga kecamatan Mayangan Kota Probolinggo Jawa Timur.
























TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Perairan Laut

Wilayah perairan dibedakan menjadi perairan darat dan perairan Laut. Perairan laut adalah wilayah bumi yang tertutup oleh air asin Perairan laut dari pantai sampai dasar laut. Ilmu yang mempelajari tentang keadaan larutan disebut uceanografi. Luas laut dibandingkan adalah 7:3. Laut menurut terjadinya dibedakan menjadi :

Laut Transgresi
Laut yang luas terjadi karena daratan rendah yang tergenang oleh air laut. Pada perairan Indonesia terdapat 2 wilayah yang merupakan laut transgesi yakni danau kala sunda dan dangkalan sahul.

Laut Ingresi
Laut yang terjadi karen adasar laut mengalami penurunan. Pada perairan laut Indonesia yang merupakan jenis laut ingresi adalah laut Banda, laut Maluku, laut Flores, laut Sulawesi.

Laut Regresi
Laut yang menyempit terjadi karena penyempitan luas permukaan laut, karena kegiatan erosi dan sedimentasi yang tiada henti-hentinya serta berlangsung selama berabad-abad mengakibatkan semakin meluasnya daratan pantai.
(Anynomous, 2010)
Menurut letaknya laut di bedakan menjadi 3, Laut tepi, Laut pertengahan, dan Laut pedalaman.
Berdasarkan kedalamannya di bagi menjadi 4 yaitu :
Zona litheral
Zona nethiric
Zona Balhyal
Zona abisal






2.2 Parameter Fifika
2.2.1 Suhu
Suhu di laut adalah salah satu faktor yang amat sangat penting bagi kehidupan organisme laut karena suhu mempengaruhi metabolisme maupun perkembangan organisme. Baik laut maupu daratan ekduanya dipanasi oleh sinar matahari melalui suatu prooses yang dinamakan insolation. Akan tetapi pengaruh pemanasan ini tidaklah sama untuk daerah-daerah yang terletak pada lintang yang berbeda. Daerah tropik menerima sinar lebih banyak dari daerah subtropik atau kutub, hal ini disebabkan oleh tiga faktor, yaitu :
Sinar matahari yang merambat melalui atmosfer ke arah kutub akan kehilangan panas semakin besar.
Karena besarnya perbedaan sudut datang sinar matahari ketika mencapai permukaan laut atau bumi , semakin ke arah kutub sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi akan tersebar lebih luas dibandingkan dengan daerah ekuator.
Di daerah semakin ke kutub lebih banyak sinar yang dipantulkan kembali ke atmosfer.(Kurniawan Andi, 2006)

Sebaran suhu secara vertikal di perairan indonesia pada umumnya mempunyai pola seperti gambar

5 10 15 20

100

200

300

400

500


Perubahan suhu pada kedalaman laut yang berbeda-beda. Terdapat suatu perubahan yang menyolok pada kedalam di antara 100-200 meter yang dikenal sebagai lapisan termoklin.
(Hutabarat, 1977)

2.2.2 Kecepatan Arus
Arus adalah gerakan mengalir suatu massa air ke arah tertentu. Arus ini bisa sehangat 30⁰C aatau sedingin 2⁰C, tergantung dimana arus tersebut berasal, dan lebar arus bisa lebih dari 60 km. sebagian besar arus bergerak dengan kecepatan 10 km perhari, meskipun untuk beberapa jenis arus dapat bergerak lebih cepat. Arus membawa banyak sekali air ke seluruh penjuru bumi, mempengaruhi dan membantu mengatur iklim. Arus terdapat di permukaan maupun di samudra yang dalam. Arus mempunyai arti yang penting dalam menentukan pelayaran bagi kapal-kapal. Peta arus telah dibuat oleh para pelaut berabad-abad yang lalu.
(Kurniawan, 2006)

Ada juga yang bergerak sepuluh ribu kali melintasi samudra daripada seluruh pergerakan sungai besar di daratan. Dibawah permukaan ada arus yang naik ke permukaan dan ada juga yang kebawah. Dan ada juga arus dalam yang menggerakkan air laut yang sangat banyak. Secara keseluruhan pergerakan dari arus dalam dan hubungannya dengan arus permukaan belum banyak diketahui dan dimengerti. Gelombang permukaan lebih mudah dimengerti.
(Bill, 2002)
Besar kecilnya kecepatan arus sangat dipengaruhi faktor antara lain :
Kecepatan angin
Tahanan dasar
Gaya Coriolis
Perbedaan Densitas
(Wibisono, 2005)
2.2.3 Kecerahan Dan Sifat Optis Air
2.2.3.1 Kecerahan
Radiasi matahari juga penting dalam melengkapi cahaya yang dibutuhkan oleh tanaman hijau-hijauan untuk dipakai dalam proses fotosintesis, tumbuhan ini tidak dapt hidup terus tanpa adanya cahaya matahari yang cukup. Akibatnya penyebaran merekan di lautan di batasi pada daerah kedalaman dimana cahaya matahari masih dapat dijumpai. Sinar matahari kebanyaakan diserap oleh lapisan permukaan laut, maka lapisan ini cenderung relatif panas sampai pada kedalaman 200 meter. Pada lapisan kedalaman antara 200 dan 1000 meter, suhu turun secara mendadak yang membentuk kurva dengan lereng yang tajam yang dikenal termokline.
(Hutabarat, 2005)
2.2.3.2 Sifat Optis Air
Cahaya yang mencapai permukaan bumi dan permukaan perairan terdiri atas cahaya langsung (direct) berasal dari matahari dan cahaya yang disebarkan oleh awan (yang sebenarnya berasal dari cahaya matahari). Penetrasi cahaya ke dalam air sangat dipengaruhi oleh intensitas dan sudut datang cahaya, kondisi permukaan air dan bahan-bahan tersuspensi di dalam air. Cahaya matahari mencapai permukaan perairan tersebut sebagian diserap dan sebagiannya di refleksikan kembali. Beberapa jenis molekul misalnya O2, O3,H2O dan CO2 dapat menyerap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi panas. Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk. Faktor berhubungan dengan penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula. Kecerahan dan kekeruhan merupakan parameter-parameter yang berkaitan satu sama lai. Peningkatan konsentrasi kekeruhan berbanding terbalik dengan kecerahan. Ketiga parameter tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam produktivitas perairan. Kekeruahan menggambarkan sifat optis air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat didalam air. Kekruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut maupun bahan anorganik dan organik.
(Anonymousb, 2010)
2.2.4 Pasang Surut
Pasang surut adalah gerakan naik turunnya muka laut secara berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Perhitungan matematika telah menunjukkan bahwa gaya tarik bulan yang mempengaruhi pasang surut besarnya ±2,2 kali lebih besar daripada gaya tarik matahari. Badan -badan astronomis yang lainnya pun sebenarnya sangat kecil dan bisa diabaikan. (nontji, 1986)
Pasang terutama disebabjan oleh adanya gaya tarik menarik antara dua tenaga yang terjadi di lautan, yang berasal dari gaya sentrifugal yang disebabjan oleh perputaran bumi pada sumbunya dan gaya gravitasi yang berasal dari bulan. Gaya sentrifugal adalah suatu tenaga yang didesak kearah luar dari pusat bumi yang besarnya lebih kurang sama dengan tenaga yang ditarik ke permukaan bumi. Tidak sama halnya dengan gaya tarik gravitasi bulan dimana gaya ini terjadi tidak merata pada bagian-bagian di permukaan bumi. (Hutabarat, 1988)


Tipe pasang
Pasang di Indonesia dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu :
Pasang surut harian ganda
Pasang yang memiliki sifat dalam satu hari terjadi 2 kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi pasang yang hampir sama dan pasang surut terjadi berurutan secara teratur.
Pasang surut harian tunggal
Tipe pasang yang dalam satu hariterjadi satu kali pasang dan satu kali surut.
Pasang surut dampuran condong ke harian ganda
Pasang yang dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda.
Pasang surut campuran condong ke harian tunggal.
Dalam satu hari terjadi satu kali pasang satu kali surut tetapi kadang 2 kali pasang dan 2 kali surut dengan tingi dan periode yang sangat berbeda(Kurniawan, et all, 2006).
2.2.5 Gelombang
Yang dimaksud degna delombang adalah gerakan dari setiap partikel air laut yang berupa gerak longitudinal dan orbital secara bersamaan disebabkan oleh transmisi energi serta waktu (momentum) dalam artian impuls vibrasi melalui berbagai bentuk ,ateri. Dala hal ini berbentuk partikel air laut. Secara teoritismediumnya sendiri tetap tiddak bergerak mengikuti arah energi yang melaluinya. Energi yang dimaksud bisa berupa tiupan angin gerak rotasi bumi atau gerakan lapis sedimen bawah laut, gempa tektonik dan lain lain (Wibisono, 2005).
Karakteristik gelombang laut yang diakibatkan oleh angin didasarkan oleh tiga faktor yaitu
Kecepatan angin
Lamanya angin berhembus
The fetch, yaitu jarak yang ditempuh satu hembusan angin
Seperti yang bisa kamu bayangkan gelombang besar dihasilkan oleh angin yang kuat dan berhembus lebih lama dengan fetch yang jauh. Pada umumnya hembusan panjang jaraknya semakin jauh dengan periode yang panjang. Dengan tambahan menghasilkan pola yang rumit dari perbedaan tinggi dan panjang gelombang (Bill, 2002).










2.3 Parameter Kimia
2.3.1 pH (Power of Hidrogen)
pH suatu larutan diidentifikasikan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hydrogen (dalam mol/liter).
pH = -log [H3O] atau pH = -log [H+]
Karena pada dasarnya hanyalah untuk menyatakan konsentrasi ion hydrogen. Larutan asam dari larutan basa pada 25⁰Cdapat diidentifikasi berdasarkan nilai pHnya :
Larutan Asam : [H+] > 1,0 x 10-7 m , pH < 7,00
Larutan Basa : [H+] < 1,0 x 10-7 m , pH > 7,00
Larutan Netral : [H+] 1,0 x 10-7 m , pH = 7,00
(Chang, 2005).
Karena nilai [H+] mengidentifikasikan apakah larutan itu asam, basa atau netral tergantung pH dengan perbedaan tipis. Karena nilai pH bernilai positif sehingga pH di bawah 7 adalah asam (lebih dari 10-7) dan pH di bawah 7 adalah basa (kurang dari 10-7), pH sama dengan 7 adalah netral (Charles, 2002).

2.3.2 Salinitas
Cirri khas pada air laut yang diketahui oleh semua orang ialah rasa asin, ini disebabkan karena di dalam air laut terlarut bermacam – macam garam, yang paling utama adalah garam natrium khlorida (NaCl) yang sering pula disebut garam dapur. Garam dapur yang banyak diproduksi di Madura dan juga di daerah lain diperoleh dengan menguapkan air laut di daerah lain. Selain garam – garam khlorida, di dalam laut juga terdapat magnesium, kalsium, kalium dan sebagainya (Nontji, 1986).
Tinggi rendahnya garam di laut dipengaruhi oleh :
Penguapan.
Sungai yang bermuara ke laut tersebut.
Curah hujan.
Pemasukan air dari samudra di sekitar.
Air yang berasal dari gleser.
(Annonymousb, 2010).

2.3.3 Oksigen Terlarut
Di lapisan permukaan laut konsentrasi gas oksigen sangat bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh suhu, makin tinggi suhu makin berkurang tingkat kelarutan oksegennya. Tapi anehnya semakin dalam beberapa ratus meter di bawah permukaan laut, walaupun suhu menurun ternyata kadar oksigen juga malah berkurang sehingga bisa ditemukan lapisan air laut, walaupun suhu menurun ternyata kadar oksigen juga malah berkurang sehingga bisa ditemukan lapisan air laut dengan kadar oksigen minimum. Hal ini berarti konsentrasi tertinggi untuk gas oksigen terdapat pada lapisan epilagik. Perhitungan DO menggunakan formula sebagai berikut :
DO (mg⁄liter)= (a×N×8000)/(V-4)
Ket :
a : V titran tisulfat terpakai (ml)
N : normalitein larutan thisulfat (= 0,025)
V : volume botol wihkler
V-4 : volume contoh air
4 : faktur bereaksi (2 ml MnSO4 + 2 ml larutan kj aizide)
(Wibisono, 2005).
Penurunan kualitas air akibat pencernaan dapat dilihat dengan diamati beberapa parameter kimia seperti oksigen terlarut. Kadar dan oksidasi bahan – bahan organic. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu difusi udara dan hasil fotosintesis organism yang hidup. Raymond (1963) menyatakan bahwa kecepatan difusi oksigen dari udara tergantung dari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut.
Adam menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air lautakan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas (Salmin, 1996).









3. METODOLOGI

3.1 ALAT DAN FUNGSI
3.1.1 PARAMETER FISIKA
Alat – alat yang digunakan dalam praktikum oceanografi dalam pengukuran parameter fisika, antara lain :
a . kecepatan arus
Tali rafia : untuk mengikat botol- botol air mineral
2 botol air mineral 600 ml : sebagai pemberat dan sebagai palampung
Stopwatch : untuk menghitung waktu dalam pengukuran kecepatan arus
b. kecerahan atau sifat optis air.
- sechi disc : untuk mengukur tingkat kecerahan dalam suatu perairan
-penggaris : untuk mengukur panjang tali pada sechi disk
-karet gelang : untuk menandai panjang D1 dan D2

c. Suhu.
-Termometer : untuk mengukur suhu dalam perairan
d. Gelombang.
-Tongkat skala 2m : untuk mengukur tinggi gelombang.
-Stopwatch : untuk mengukur waktu dalam pengukuran tinggi gelombang.
e. Pasang Surut.
-tide staff :untuk mengukur waktu dalam pengukuran tinggi gelombanng.

3.1.2 PARAMETER KIMIA
Alat – alat yang digunakan dalam praktikum oseanografi dalam pengukuran parameter kimia, antara lain :
pH
kotak standart : untuk mencocokan perubahan warna yang terjadi pada sample air laut.




Salinitas
Refraktometer : alat untuk mengukur salinitas air laut.
Pipet tetes : untuk mengisap dan meneteskan cairan dalam jumlah sedikit.
Washing bottle : untuk wadah aquadest.
Botol air mineral bekas : sebagai wadah sementara sample.

Dissolved Oxigen ( DO)
Botol DO : untuk mengambil air sample dari laut.
Biuret : untuk titrasi sampel atau sebagai wadah Na2S2O3
Selang aerator : untuk mengeluarkan cairan bening di atas endapan dalam botol DO.
Pipet tetes : untuk membantu mengambil larutan MnSO4,NaOH +KI dan H2SO4 dalam jumlah sedikit.
Water sampler : untuk membantu mengambil sampel dari laut.
Statif : untuk penyangga biuret.
Washing bottle : untuk wadah aquadest.
Corong : untuk membantu memasukkan cairan ke dalam tubuh.

3.2 BAHAN DAN FUNGSI
3.2.1 PARAMETER FISIKA

Bahan – bahan yang digunakan dalam praktikum oceanografi pada pengukuran parameter fisika, antara lain :
Kecepatan Arus
Air laut : sebagai sampel yang diteliti.
Kecerahan dan sifat optis air.
Air laut : sebagai sampel yang diteliti
Suhu
Air laut : sebagai sampel yang diteliti
Gelombang
Air laut : sebagai sampel yang diteliti
Pasang-surut
Air laut : sebagai sampel yang diteliti
3.2.2 PARAMETER KIMIA.
Bahan – bahan yang digunakan dalam pratikum Oceanografi pada pengukuran parameter kimia, antara lain :
PH
Air laut : sebagai sampel yang diteliti PH
PH paper: untuk mengukur nilai PH.
Salinitas
Air laut : sebagai sampel yang diukur salinitasnya.
Aquadest : sebagai pembersih prisma pada refraktometer setelah di gunakan
Tissue : untuk membersihkan alat-alat yang setelah digunakan
Disolved oxigen (DO)
Larutan MnSO4 : untuk mengikat O2
Larutan NaOH+KI : untuk membentuk endapan coklat
Larutan H2SO4 : untuk indikator suasana asam dan melarutkan endapan coklat
Larutan Amilum : untuk indikator suasana basa
Larutan Na2S2O3 : sebagai titran/titrasi

























3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Parameter Fisika


A. PENGUKURAN KECEPATAN ARUS






- Diisi air local pada salah satu botol

- Dihitung waktu dengan stopwatch mulai botol dijatuhkan ke dalam perairan

- Dicatat waktu yang ditempuh selama botol dijatuhkan hingga tali tergantung sempurna

- dihitung dengan rumus V = s/t

- dicatat hasilnya






B. PENGUKURAN KECERAHAN



Diturunkan kedalam perairan
Dilihat sampai tidak terlihat sama sekali (d1)
Dimasukkan kedalam perairan hingga benar-benar tidak terlihat
Ditarik pelan-pelan hingga pertama kali terlihat (d2)
Diangkat ke permukaan
Diukur panjang D1 dan D2
Dihitung dengan rumus : D =
Dicatat hasilnya



C. PENGUKURAN SUHU



Dicelupkan kedalam air selama ± 2-3 menit
Dilakukan membelakangi matahari
Diangkat thermometer
Dibaca nilai suhu pada skala dengan cepat
- Dicatat dalam skala oc















D. GELOMBANG

- Tinggi gelombang



Ditancapkan dalam air
Diukur selisih antara puncak dengan lembah gelombang
Dilakukan pengukuran sampai 3 kali
Dicatat hasilnya


















- Periode gelombang




Disiapkan tongkat berskala
Ditancapkan pada perairan pantai
Dihitung dengan stopwatch dinyalakan stopwatch pada saat pertama menyentuh tongkat
Dimatikan stopwatch ketika datang lembah yang menyentuh tongkat berskala
Diacat hasilnya
















E. PASANG SURUT


Dipasang pada tiang di daerah pasang surut yang masih terendam air
Dicatat tinggi permukaan air mula-mula t0 (cm)
Dicatat tinggi permukaan air t1 (cm) setelah 1-5 jam (t1)
Dihitung kecepatan pasang surut sebagai selisih dari kedua hasli pengukuran tersebut (cm/jam)

















3.3.2 Parameter Kimia


A.PENGUKURAN pH



Dimasukkan pH paper kedalam air
Diangkat pH paper
Dikibas-kibaskan hingga setengah kering
Dicocokkan peerubahan warnanya dengan kotak standart pH











B. PENGUKURAN SALINITAS



Dikalibrasi dengan aguadest menggunakan washing bottle
Dibersihkan dengan tisu pada bagian optiknya,dengan searah.
Diambil air sampel dengan pipet tetes
Diteteskan pada optik refraktometer sebanyak 1 tetes
Ditentukan salinitas perairan dengan melihat skala pada sisi kanan atas









C PENGUKURAN OKSIGEN TERLARUT



- Diukur dan dicatat volume DO
- Disiapkan water sampler yang didalamnya terdapat botol DO yang telah dihubungkan dengan selang
- Disumbat selang yang telah dihubungkan dengan botol DO
- Dimasukkan water sampler ke dalam air (zona estuari)
- Diletakkan selang (ujung) ditelinga hingga terdengar bunyi “blup” pertanda botol DO telah terisi penuh
- Diangkat water sampler
- Dibuka tutup water sampler, dikeluarkan botol DO yang terisi penuh dengan air
- Ditutup botol DO, dibolak-balik, jika masih terdapat gelembung udara, percobaan diulangi
- Dibuka tutup botol Do, dibolak-balik, jika masih terdapat gelembung udara percobaan diulangi lagi





-Dibuka tutup botol yang berisi sample
- Ditambahkan 2ml Mnso2 dan 2 ml NaOH + Kl
- Dibolak-balik (dihomogenkan) biarkan ± 30 menit sampai terbentuk endapan coklat
- Dibuang air yang bening dan endapan tersisi diberi 2ml H2So4 (natrium thiosulfat) sebanyak 0,025 n sampai jernih
- Dihitung dengan rumus
DO = V(titran) . N(titran) . 8. 1000
V(botol DO) - 4

















4.PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan
1.Kecepatan Arus
Hasil Pengukuran
Panjang tali yang dipakai : 5 meter
Lama waktu : 154 detik
Kecepatan Arus : 0,032 m/detik
Arah arus : dari udara menuju selatan ( menurut mata angin)

2.Kecerahan
Hasil Pengukuran Kecerahan I II
Kedalaman secchi disk (mulai tidak tampak) 320 cm 202 cm
Kedalaman secchi disk ( mulai tampak) 303 cm 186 cm
Nilai kecerahan Rata-Rata 311,5 cm

3.Suhu
Hasil pengukuran
Suhu air laut : 31o Celcius

4.Salinitas
Nilai Salinitas : 30 ppt
5. Derajat Keasaman (pH)
Nilai pH : 9
6.Gelombang
Tinggi Gelombang
Pengukuran Ke- I II III
Puncak 40 51 60
Lembah 30 40 45
Selisih 10 11 15


Periode Gelombang
Pengukuran Ke- I II III Rerata
Periode Gelombang 4,81 1,50 2,03 2,60
7.Pasang Surut
Hasil Pengukuran
Skala awal tide staff : 187 cm
Skala akhir tide staff : 11 cm
Selang waktu : 5 jam
Kecepatan pasang surut : 35,2 cm/jam
Tipe pasang surut : diurnal

8.Oksigen Terlarut (DO)
Hasil pengukuran
Nilai kandungan oksigen di perairan 7,72 mg/L
4.2 Analisa Prosedur
4.2.1 Parameter Fisika
4.2.1.1 Suhu
Dalam pengukuran suhu digunakan thermometer Hg untuk mengukur suhu air lautan. Pengukuran dilakukan dengan cara thermometer dicelupkan kedalam perairan selama ± 2-3 menit. Usahakan pengukuran dilakukan dengan membelakangi cahaya matahari karena akan mempengaruhi thermometer dan thermometer tidak boleh bersentuhan dengan tangan pengukur karena akan mempengaruhi pengukuran dari thermometer yang dikarenakan pengaruh dari panas tubuh. Lalu angkatlah termometernya dan baca nilai suhu pada skala dengan cepat.
4.2.1.2 Kecepatan Arus
Pertama-tama disiapkan alat yaitu satu botol bekas air mineral air mineral diisi dengan air local dan dihubungkan dengan botol bekas air mineral yang kosong menggunakan tali rafia sepanjang 40 cm dan diikatkan lagi pada tali rafia sepanjang 10 cm. Botol bekas diisi air bertujuan untukpemberat, sedangkan yang kosong sebagai pelampung. Selanjutnya botol tersebut dihanyutkan botol tersebut dihanyutkan mengikuti arus. Waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak 5 meter, dicatat dan diukur menggunakan stopwatch dan dihitung dengan rumus v = s⁄t.
4.2.1.3 Kecerahan dan Sifat Optis
Dalam pengukuran kecerahan digunakan secchi disk untuk mengukur kecerahan. Secchi disk diturunkan kedalam perairan perlahan-lahan sampai batas tampak dan tidak tampak(sesaat sebelum tidak tampak) dihitung sebagai D1 dan dicatat kedalamannya secchi disk diturunkan lagi hingga tidak tampak, kemudian ditarik perlahan hingga pertama kali terlihat, dihitung sebagai D2 dan dicatat kedalamannya, kemudian dihitung dengan rumus D = (D1+D2)/2.




4.2.1.4 Pasang Surut
Pertama-tama hal yang dilakukan adalah menyiapkan alat yaitu tide staff, pertama tide staff dipasang pada tiang di daerah pasang surut terendah. Kemudian dicatat ketinggian pada skala tide staff. Setelah selang waktu kira-kira 5 jam dilihat kembali yang terdapat pada tide staff dan kemudiandicatat hasilnya. Setelah diketahui nilai skala awal dan akhir maka dihitung kecepatan pasang surut dengan menggunakan rumus = (t1-t2)/(selang waktu).
4.2.1.5 Gelombang
Hal yang harus dilakukan pertama kali yaitu menyiapkan alat yaitu tongkat skala. Pertama kali yang diukur ialah tinggi gelombang. Kemudian tongkat berskala ditancapkan/ditegakkan oleh praktikan dalam air. Dan tinggi gelombang diukur atau dilihat secara langsung atau visual oleh praktikan lainnya, selanjutnya pengukuran diulang sebanyak 3 kali, yang kedua kalinya yang diukur ialah periode gelombang. Kemudian tongkat berskala ditancapkan / ditegakkan oleh praktikan dalam air. Praktikan lainnya memegang stopwatch dan mengukur lamanya waktu yang diperlukan antara puncak gelombang I dengan puncak gelombang II untuk melewati tongkat skala tersebut. Dan pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali berulang.

4.2.2 Parameter Kimia
4.2.2.1 PH
Pertama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum yaitu, alatnya adalah kotak standart dan ph meter. sedangkan bahannya adalah ph peper dan air laut. Di ambil air sample berupa air laut. Setelah itu ph meter di masukkan ke dalam semple air laut selama kurang lebih 2-3 menit. Lalu di angkat dan di kubasikan hinggah setengah kering, kemudian di cocokkan perubahan warnanya dengan kotak standart, setelah cocok lalu di catat hasilnya.
4.2.2.2 Salinitas
Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, alatnya adalah refraktometer, pipet tetes, dan wassing botle. Sedangkan bahannya adalah air laut, aquades, dan tissue. Selanjutnya yang harus di lakukan adalah water sample di ambil dari perairan. Setelah itu bersihkan lensa pada refraktometer dengan menggunakan aquades dan sesudahnya si keringkan dengan tissue. Setelah bersih, ambil water sample dengan pipet tetes dan teteskan water sample di atas lensa pada refraktometer. Kemudian tutup lensanya dan diamati di tempat yang terdapat cahaya. Lalu dicatat hasil dari pengamatan.
4.2.2.3 DO
Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan yaitu alatnya adalah botol DO, water sample, buret, statif, pipet tetes, dan corong. Dan bahannya adalah air laut, 2ml larutan mnso4, 2 ml larutan NaoH + Kl, 3-4 tetes larutan amylum, Na2SO3 0,025N, dan larutan H2SO4. Setelah itu digunakan pengukur botle DO dan dicatat volume yang akan di gunakan. Masukkan tabung DO ke dalam air yang akan di ukur oksigenya dengan menggunakan water sample. Setelah itu di masukkan ke dalam perairan tunggu dan dengar secara seksama pada tabung DO. Jika sudah ada bunyi “blep” yang di timbulkan oleh tekanan antara udara yang ada di dalam botol Do dengan airnlaut, berarti botol Do sudah penuh dan tanpa gelombang. Selanjutnya angkat tabung DO dan buka tutupnya , angkat botol do seketika itu juga dan tutup saat masi berada di dalam tabung DO. Kemudian tambahkan masing-masing 2ml larutan Mnso4 untuk mengikat oksigen dan 2ml Naoh + Kl untuk membuat endapanwarna coklat. Setelah itu homogenkan sampai terjadi endapan, kemudia buang cairan bening yang ada di atas endapan yang bertujuan untuk pengkondisian suasana asam. Kemudian di teteskan 3-4 tetes larutan amylumdengan tujuan indikator warna unggu. Setelah itu. Endapan tsb ditetesi dengan larutan H2SO4 yang berfungsi mengikat oksigen dan tetrasi. Selama tetrasi botol DO di goyang goyangkan agar larutan homogen. Ini dilakukan untuk tujuan agar larutan bening untuk pertama kali. Setelah bening didapat hasil tetrasi dan dicatat berapa Na2SO3 yang digunakan untuk titrasi. Kemudia di hitung dengan menggunakan rumus DO
DO = (V titran x N titran x 8 x 100)/(V botol DO-4) kemudian dicatat hasilnya




4.3 Analisa hasil
4.3.1 Parameter Fisika
a. Suhu
Pada mula-mula thermometer di udara. Kemudian dimasukkan ke dalam perairan laut yaitu menunjukkan angka 310 C pada pukul 11.3 WIB.
Daerah dekat Khatulistiwa umumnya memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan tempat yang lebih ke utara atau ke selatan. Hal ini secara garis besar diakibatkan oleh jumlah penyinaran matahari yang diterima oleh masing-masing tempat.
(kurniawan, 2006).
b. Kecepatan Arus
Kecepatan arus pada perairan laut dengan panjang tali yang dipakai 5 meter dan waktu yang digunakan 154 detik. Dan dengan menggunakan rumus kecepatan V = S/t , yaitu V = 5/154 = 0,032 m/s2 . Jadi kecepatan arus didapatkan hasil 0,032 m/s2.
Besar kecilnya kecepatan arus sangat dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain :
Kecepatan angin
Tahanan dasar
Gaya Coriolis
Perbedaan densitas
(Wibisono, 2005).
c. Kecerahan
Pertama-tama secchi disk dimasukkan ke dalam laut sehingga secchi disk tidak tampak pertama kali, dan dicatat sebagai D1, yang bernilai 320 cm. kemudian secchi disk diangkat dan dijatuhkan lagi hingga secchi disk tidak tampak sama sekali, lalu diangkat hingga tampak pertama kali dan dicatat sebagai D2, dengan nilai 303 cm. Dan untuk mendpatkan nilai kecerahan dapat dihitung dengan menggunakan rumus (D1+D2)/2. Kecerahan = (320+303)/2 = 311,5 cm. Jadi nilai kecerahan pada pukul 11.45 WIB adalah 311,5 cm.
Kemudian sebagai pembanding, dengan cara yang sama dilakukan perlakuan yang sama setelah 1 jam, yaitu pada pukul 12.45 WIB, dan didapatkan hasil D1 = 202 cm, D2 = 186 cm. Kemudian dihitung menggunakan rumus kecerahan = (202+186)/2 = 194 cm. Jadi dapat diketahui kecerahan kedua pada pukul 12.45 WIB adalah 194 cm.
Radiasi matahari juga penting dalam melengkapi cahaya yang dibutuhkan oleh tanaman-tanaman hijau untuk proses fotosintesa.
Perbandingan antara besarnya cahaya yang dipantulakan oleh air laut dengan letak tinggi matahari di atas cakrawala:
Tinggi matahari 90 60 30 20 10 5
Cahaya dipantulkan 2 3 6 12 35 40%
Cahaya diteruskan 98 97 94 8 65 60%
(Hutabarat, 1985).


d. Pasang surut
Pada praktikum oseanograi tentang pasang surut telah didapatkan hasil sebagai berikut, skala awal pada saat Tide staff ditancapkan yaitu 187 cm (pasang), dan pada sore hari saat surut, skala akhir tide staff aalah 11 cm, sehingga seisihnya 176 cm. Selang waktu pengukuran 5 jam dan kecepatan pasang surut yang dihasilkan adalah 35,2 cm/jam. Sedangkan tipe pasang surut berdasarkan wawancara adalah diurnal.
Kisaran pasang yakni perbedaan tinggi air pada saat pasang maksimum dan tinggi air saat surut maksimum, rata-rata berkisar antara 1-3 meter.
(Nontji, 1986)

e. gelombang
Pada praktikum oseanografi tentang gelombang dan periode gelombang, didapatkan hasil sebagai berikut. Pengukuran pertama dihasilkan puncak gelombang yaitu 40 cm pada tongkat skala dan lembah gelombang 30 cm, dan didapatkan selisih 10 cm. pada pengukuran kedua didapatkan hasil puncak gelombang 51 cm dan lembah gelombang 40 cm, dan selisihnya 11 cm. Dan pada pengukuran ketiga didapatkan hasil puncak gelombang 60 cm dan lembah 45 cm, dan selisihnya 15 cm. Maka didapatkan tinggi gelombang rata-rata = (10+11+15)/3 = 12 cm.
Pada pengukuran periode gelombang, pada pengukuran I waktu yang dibutuhkan antara gelombang pertama dan kedua menyentuh tongkat skala adalah 4,81 s. Pada pengukuran II didapatkan hasil 1,05 s, dan pada pengukuran III didapatkan hasil 2,03 s. Maka didapatkan rata-rata periode gelombang dengan rumus yaitu = (4,81+1,05+2,03)/3 = 2,06 sekon.
Menurut Nontji (1992), hasil riset kapal Chin yang menunjukkan hubungan angin musim dan pola gerakan gelombang di paparan Sunda. Gelombang permukaan laut bergerak ke utara di sebelah selatan Kalimantan dan air bergerak ke ytara di sebelah barat Kalimantan dengan periode 48 detik. Hal ini tidak sesuai dengan hasil praktikum tentang periode gelombang.
4.3.2 Parameter Kimia
a. pH
Pada pengukuran pH didapatkan hasil setelah mencelupkan kertas pH (pH Paper) pada air sampel dan dicocokkan pada kotak pH, dan didapatkan nilai pH 9, berarti pH air laut tersebut adalah asam.
Larutan asam → pH < 7
Larutan basa → pH > 7
Larutan netral → pH = 7

b. Salinitas
Pada pengukuran salinitas didapatkan hasil setelah mengambil sampel air dan diukur dengan menggunakan Refraktometer dan didapatkan hasil yaitu skala salinitas pada refraktometer menunjukkan angka 30. Jadi salinitas di perairan laut Probolinggo adalah 30 ppt.

Berdasarkan tingkat salinitas, maka perairan laut dibagi menjadi :
Oligohaline = 0,5 – 3,0 %
Meso haline = 3,0 – 10,0 %
Pleomesohaline = 10,0 – 17,0 %
Polyhaline = 17 – 30 %
Ultrahaline = > 30 %
Perairan Jawa biasanya tidak lebih dari 32 0/00.(Wibisono, 2005)

d. DO (Dissolved Oxygen)
Pada pengukuran DO didapatkan hasil sebagai berikut : volume (Titran) = 9,5 mL, N (Titran) = 0,025 dan Volume botol DO = 250 mL. Dan dengan menggunakan rumus DO didapatkan hasil sebagai berikut :
DO (mg⁄l) = (V (titran) x N (titran)x8000)/(V (Botol DO) -4) = (9,5 x 0,025 x 8000)/244 = 7,72 mg⁄L
Jadi, didapatkan hasil nilai kandungan oksigen terlarut di perairan Probolinggo adalah 7,72 mg⁄L.
Di lapisan permukaan laut konsentrasi gas oksigen sangat bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh suhu. Makin tinggi suhu makin berkurang tingkat kelarutan oksigen. Di laut DO berasal dari dua sumber, yaitu Atmosfer dan hasil Fotosintesis Fitoplankton.

4.4 Manfaat di Bidang Perikanan
4.4.1 Parameter Fisika
a. Suhu
Manfaat suhu di bidang perikanan yaitu bahwa dengan suhu yang baik bagi perikanan maka menyebabkan populasi ikan yang ada di perairan dan memperbanyak proses penangkapan ikan.
Peningkatan suhu menyebabkan penangkapan riskositas reaksi kimia, erapor dan volatiksi. Selain itu peningkatan suhu juga mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air.(Wikipedia, 2010)
b. Kecerahan
Kecerahan suatu perairan dapat bermanfaat bagi perikanan yaitu apabila suatu kecerahan pada perairan cukup, maka dapat melakukan proses fotosintesis pada tumbuhan laut dan menjadi sumber makanan bagi ikan , sehingga populasi ikan meningkat.
(Wikipedia, 2010)
c. Pasang Surut
Pasang surut dapat dimanfaatkan untuk pemberangkatan peta wilayah pada saat nelayan mencari ikan saat surut. Sedangkan pada saat pasang kapal nelayan kembali ke daratan. Pasang surut adalah fLuktuasi maka arrival sebagai fungsi waktu karena adanya gaya tarik-menarik antara benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air luar bumi. (Anonymous, 2010)
d. gelombang
Gelombang air laut dapat dimanfaatkan untuk berangkat dan pulagnya nelayan dalam mencari ikan. Selain itu nelayan dapat memprediksikan keadaan baik buruknya cuaca di laut sebelum nelayan pergi berlayar. Gelombang disebabkan oleh angin.
(Brotowidjoyo, 1999)
Susunan gelombang di lautan baik bentuk maupun macamnya sangat bervariasi dan kompleks, sehingga mengakibatkan mereka ini hamper tidak dapat diuraikan. Karena itu sangatlah berguna untuk membuat sebuah model gelombang buatan yang dapat digerakkan dan dikontrol secara hati-hati di dalam sebuah tangki gelombang di laboratorium. Paling tidak bentuk gelombang ideal ini sudah memungkinkan kita untuk dapat mengenal bentuk sebenarnya serta membantu memberikan istilah-istilah yang diperlukan.
Gelombang merupakan factor utama dalam penentuan tata letak, pelabuhan, alur pelayaran.
(Hutabarat, 1988).
e. Kecepatan arus
Kecepatan arus dapat dimanfaatkan bagi perikanan yaitu untuk mengetahui arah arus pada perairan sehingga saat mencari ikan, alat angkap yang digunakan tidak rusak atau terbelit.
(Anonymous, 2010).
Surface confergene Zone menciptakan Down welling yang membawa oksigen dari permukaan menuju ke bawah perairan. Sedangkan Up welling terjadi pada divergence zone membawa air yang kaya nutrient ke permukaan, menciptakan suatu wilayah perairan yang subur.
(Kurniawan, 2006).
f. Sifat Optis
Sifat optis air dapat dimanfaatkan untuk penyebaran plankton yang terlarut di dalam air. Dalam mengidentifikasi banyaknya ikan yang hidup di suatu perairan. Seperti halnya kecerahan, pengukuran optis air ini juga merupakan factor penting dalam hubungan perpindahan populasi hewan laut(Anonymous, 2010).

4.4.2 Parameter Kimia
a. pH
Ph sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air, selain itu ikan da makhluk hidup akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka.
(O-fish, 2010)
Kondisi perairan yang bersifat sangat asam atau sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Di samping itu pH yang sangat rendah yang akan menyebabkan inobilitas berbagai senyawa logam berat terutama ion alumunium yang bersifat toksik.
(Anonymous, 2010).

b. DO (Dissolved Oxygen)
Untuk mempertahankan hidupnya, maka makhluk hidup yang tinggal di air baik tanaman maupun hewan tergantung pada kadar oksigen terlarut. Oksigen berfluktuasi secara harian (Diurnal) dan musiman tergantung pada percampuran (miksin) dan pergerakan (Turbulensi) massa air, aktivitas fotosintesis respirasi dan limbah (Effluent) yang masuk ke badan air. Di perairan air tawar, kadar oksigen yang terlarut antara 15 mg/L pada suhu 0o C dan 8 mg/L pada suhu 250 C.(Anonymous, 2010).
c. Salinitas
Salinitas pada kisaran 25% lebih tinggi atau lebih rendah dari air laut normal mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan zygote Sargassum yezoense. Kondisi salinitas perlu diperhatikan untuk mengembangkan pertumbuhan sargassum di perairan pantai yang akan dijadikan lahan pembibitan.
(Sulistyo, 1998).
















5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Perairan laut adalah wilayah bumi yang tertutup oleh air asin.
Suhu di laut adalah salah satu factor penting yang mempengaruhi metabolism dan perkembangan organisme.
Arus adalah gerakan mengalir suatu massa air ke arah tertentu.
Pasang surut adalah gerakan naik turunnya muka laut secara berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari.
Gelombang adalah gerakan dari setiap partikel air laut yang berupa gerak longitudinal dan orbital secara bersamaan.
PH adalah suatu larutan yang diidentiikasi sebagai logaritma negative dari konsentrasi ion hydrogen.
Salinitas adalah jumlah berat semua garam (gram).


Hasil Praktikum :
Kec.Arus Kecerahan Salinitas Suhu pH Gelombang Pasang Surut DO
0,032 m/s2 I = 311,5 cm
II = 194 cm 30 ppt 310C 9 Rerata Tinggi = 12 cm.
Rerata periode = 2,06 m 35,2 cm/jam 7,72 mg/L
5.2 Saran
Diharapkan kepada para praktikan dapat memperhatikan dengan seksama saat asisten menjelaskan metode praktikum. Agar tidak terjadi kesalahan dalam praktikum dan mendapatkan hasil yang maksimal.
Diharapkan juga kepada para praktikan agar memahami parameter-parameter yang ada, baik fisika maupun kimia saat praktikum oseanografi, agar dapat lebih memahami tentang oseanografi.








DAFTAR PUSTAKA
Allison, 2002 Oceanographyfor University. Mc Grawhill. Newyork
Anonymousa,2010 Perairan laut. http://id.wordpress.com/Perairan_laut. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymousb,2010 Salinitas http://id.wordpress.com/salinitas. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymousc,2010 Suhu. http://id.wordpress.com/suhu. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymousd,2010 Kecerahan. http://id.wordpress.com/kecerahan. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymouse,2010 Pasang surut. http://id.wordpress.com/pasang_surut. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymousf,2010 pH. http://id.wordpress.com/pH. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymousg,2010 pH http://mspuh.com/ph. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymoush,2010 DO http://mspuh.com/DO. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Anonymousi,2010 pH http://mspuh.com/Sifat_optis_air. diakses pada tanggal 2 mei 2010
Awalludin, 2010. Sifat Optis Air. http://blogspot.awaludin.com
Diakses pada tanggal 2 mei 2010
Bill W Tiklery 2002. Physical science Mcgrawhll. Newyork
Changraymena. 2005. Chemistry gramedia. Jakarta
Charles G Gebellein. 2002. Chemistry and ourworld. Wmc. Brow publisher. Ohho
Hutabarat, Sahala. 1985. Pengantar Oseanografi. UI Press. Jakarta
Kurniawan Andi, 2006. Diktat kuliah pengantar oseanografi Penerbit Brawijaya Fakultas Perikanan. Malang
Nontji Anugerah, 1986. Laut Nusantara. Djambatan Jakarta
Salmin. 1996. Kadar terlarut di perairan sungai dadap goba. Nuara karang dan teluk banten. Balitbang oseanigrafi. LIPI. Jakarta
Sulistyo, 1998. Pengaruh salinitas terhadap zygote rumput laut sargassum. Puslitbang oseanografi. LIPI. Jakarta
Walpodo, 1998. Pengantar Ilmu kelautan PT Gramediawidasarana Indonesia Jakarta
Wibisono, 2005. Perairan darat dan laut. Yudhistira. Jakarta